Orang Tua Sebaiknya Hindari Paparan Berita Terorisme ke Anak
Orang Tua Sebaiknya Hindari Paparan Berita Terorisme ke Anak
Psikolog Anak di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, Vera
Itabiliana Hadiwidjojo, menganjurkan kepada orang tua menghindari
paparan berita terorisme pada anak di media massa maupun media sosial.
Paparan tersebut tidak memiliki dampak positif pada anak, terutama untuk
mereka di bawah umur.
Apabila anak terpapar tanpa pendampingan atau penjelasan maupun
diskusi setelahnya, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif.
"Misalnya, menimbulkan ketakutan, kecemasan sehingga mengganggu
aktivitas anak. Selain itu, berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang
tepat," ujar Vera, Senin (14/5).
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Dengan menyaksikan
pemberitaan terorisme, dalam bentuk berita teks, video maupun gambar,
anak juga akan belajar atau terbiasa terhadap kekerasan. Bahkan, tidak
menutup kemungkinan juga, mereka menganggap tindakan itu sebagai hal
biasa karena kerap terjadi. Guna menghindarinya, orang tua disarankan
mengikuti berita di gawai masing-masing ataupun televisi tanpa
melibatkan anak.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Tapi, apabila anak sudah terlanjur
mendengar, melihat lalu bertanya tentang terorisme maupun aksi
kekerasan, orang tua harus menjawabnya. Sebelumnya, tanya pada anak apa
dan sejauh mana informasi yang telah mereka ketahui. Orang tua harus
memastikan, informasi serta persepsi yang diterima anak terkait teror
bom adalah benar.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Jika ada pemahaman anak yang salah, orang
tua tentu patut meluruskan beritanya terlebih dahulu. Penjelasan ini
tetap harus diberikan kepada anak sesuai kapasitas usia mereka. "Jawab
dengan bahasa yang sederhana agar anak mudah memahami," tutur Vera.
Baca
juga info : daftar kursus kampung inggris pare
Vera
memberikan contoh, teroris dapat diartikan sebagai sekelompok orang
yang bermaksud jahat, menyebarkan rasa takut dan sebagainya. Jika anak
sudah beranjak remaja, diskusi ini juga dibutuhkan untuk menghindari
mereka terjerumus. Sebab, kalanga remaja kerap menjadi sasaran masuknya
paham radikalisme ini.

Comments
Post a Comment